Prof. Dr. Media Zainul Bahri, MA

(Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Suaranya khas, parau. Intonasinya ketika melafazkan satu kata untuk sambung dengan kata berikutnya dibuat terputus, kedengarannya jadi puitis. Retorikanya memesona. Kami mahasiswa tahun 1990-an di Bandung selalu terpukau mendengar Kang Jalal berceramah. Jangan ditanya referensi dan istilah-istilah dalam bahasa Arab, Persia, Inggris, Jerman, dan Belanda yang dilafazkannya, fasih.

Pada tahun 2014, setelah empat tahun saya mengisi kajian Islam, termasuk khotbah Jumat, di Masjid/Mushala Rahardja Paramadina, saya diberitahu oleh Pak Rahmat untuk bersiap menggantikan jadwal khotbah Kang Jalal. “Kang Jalal sedang sibuk kampanye untuk DPR Pusat dari PDI-P” kata Pak Rahmat. Maka setiap jadwal Kang Jalal, sayalah yang datang ke masjid Paramadina itu untuk jadi Khatib badal alias pengganti. 3 kali saya menggantikan beliau. Hingga tibalah kali ke-4 saya dikontak untuk kembali menggantikan beliau. Saya datang. Tiba-tiba Kang Jalal datang. Wah, senang sekali ketemu Kang Jalal. Selesai beliau khotbah dan shalat Jumat, Pak Rahmat bilang, “Ini mas Media yang selama ini menggantikan Kang Jalal selama kampanye”. Langsung dijawabnya: “Alhamdulillah, engkau guruku” lalu memegang kedua tangan saya sambil mengeluarkan “jurus” pujian-pujian puitis dengan suara paraunya, yang membuat saya kaget sebenarnya. Masak saya dipanggil gurunya, apa gak ke balik? Lalu saya diajak makan siang di salah satu Restoran di Pondok Indah itu.

Setelah makan mulailah Kang Jalal bercerita, “Dulu di masa muda, saya begitu terpukau dengan pikiran-pikiran A. Hassan, maka segera saya menjadi anggota PERSIS. Ketika ada kesempatan ceramah, semua saya bid’ah-bid’ahkan (sambil terkekeh). Tetapi kemudian saya menemukan Muhammadiyah jauh lebih rasional dan modern, maka segera saya menjadi anggota Muhammadiyah. Namun lama-lama saya merasa kering. Saya rindu sekali membaca zikir berjamaah atau baca Barjanzi ramai-ramai, maka segera saya mendekat kepada Kyai-Kyai NU dan merasa nikmat mengamalkan amalan-amalan orang NU yang berjamaah itu. Tetapi lama-lama setelah menelaah kitab-kitab orang NU yang saya bandingkan dengan keluasan kitab-kitab Syiah, dan saya berkesempatan tinggal di Iran. Akhirnya saya mantap memilih Syiah untuk jalan agamaku”. Lalu Kang Jalal menatap saya, “Dalam mencari kebenaran, sudah berapa kali antum pindah keyakinan dan mazhab? Saya sudah 4 kali lho” sambil tertawa lebar. “Antum sebagai akademisi, kan selalu mencari kebenaran. Nah kalau sudah menemukan kebenaran pada keyakinan dan mazhab lain, selain yang antum pegang sekarang, lalu antum tidak mau pindah juga, itu diancam oleh al-Qur’an bisa masuk neraka lho…”. Kali ini ketawa Kang Jalal lebih keras… Saya merasa terhibur sekali hahaha

Kemudian ia cerita yang lain, “Saat ini (2014) saya sedang menyelesaikan Disertasi saya dalam bidang Ilmu Hadis di UIN Alauddin Makassar. Mau tahu topiknya? Dalam salah satu sub-bab pembahasannya saya meneliti 17 kesalahan bacaan shalatnya orang-orang Sunni berdasar hadis-hadis dari kitab kaum Sunni sendiri, bukan dari kitab Syiah”. Berceritalah ia 17 kesalahan itu, yang saya sendiri sudah lupa apa saja itu. “Lalu sekelompok umat Islam di Makassar mendatangi Direktur Pascasarjana meminta supaya S-3 saya dibatalkan. Pak Direktur menjawab bahwa karya ilmiah tidak bisa dibatalkan kecuali dilawan oleh karya ilmiah baru. Karena tidak puas, mereka lalu mendatangi Dirjen Nasaruddin Umar, meminta supaya Disertasi saya dibatalkan”. “Nah, Nasaruddin Umar kan teman saya”, kata Kang Jalal. “Dia membela saya. Masak Disertasi dibatalkan oleh alasan non-akademik. Kalian bikinlah Disertasi baru. Kritik itu Disertasi Jalaluddin Rakhmat, kata Pak Nasar. Pak Nasar seolah mau bilang: kalian bikin malu orang Sulawesi aja”, kata Kang Jalal mengakhiri makan siang itu. Saya heran, dia sudah jadi ikon intelektual Islam Indonesia, ikon Komunikasi Unpad, tapi di umur setua itu dia masih mau menulis Disertasi lagi dalam bidang Ilmu Hadis.

Setelah perjumpaan itu kami berjumpa lagi yang kedua dan ketiga dalam acara Seminar dan acara IJABI di Student Center (SC) UIN Ciputat. Seperti biasa, ia mendendangkan syair-syair puitis. Dalam kesempatan berdua, ia bercerita lagi kepada saya, “Dalam Shahih Bukhari ada cerita Nabi mendatangi seorang perempuan yang suaminya sedang pergi perang. Jadi Nabi mendatangi perempuan yang suaminya sedang tidak di rumah. Lalu Nabi tidur di pangkuan perempuan itu, wa hiya tumli: dan dia (perempuan itu) mencari kutu di kepala Nabi sambil Nabi tidur di pangkuannya. Nah, menurut antum yang Sunni, hadis ini shahih gak? Ini Shahih Bukhari lho. Menurut saya ini hadis palsu, hadis palsu” kang Jalal mengulang-ulang. “Tidak mungkin donk Nabi mendatangi perempuan lalu tidur di pangkuannya di saat suaminya tidak ada. Nah di kitab-kitab Shahih Sunni itu banyak hadis palsu atau dha’if” kata Kang Jalal meyakinkan saya. Dari gestur tubuhnya, terlihat sekali dia ingin kami yang muda-muda berpikir dan bersikap kritis. Lalu saya tanya balik, “Kang Jalal punya kritik terhadap Syiah?” Dia jawab, “Gini ya, pertama, saya mendukung penuh kebebasan berpikir dan toleransi. Ini penting. Kedua, kalau ada yang mengatakan bahwa saya menentang ideologi Iran (bukan Syiahnya) ya bolehlah dikatakan begitu, karena saya dan IJABI loyal kepada Pancasila, tidak kepada ideologi politik yang lain. Antum pahamlah maksud saya ya”. Sebenarnya saya kurang puas dengan jawaban itu, mau saya “kejar” lagi, tetapi sudah keburu datang penjemput. Mau ada acara di tempat lain. Sambil berdiri dan menepuk-nepuk bahu saya, Kang Jalal kembali bersyair dalam bahasa Arab menyebut nama belakang saya, “Yaa Zainal Bahri anta bla bla bla…” Hebat tokoh ini. Dia hafal banyak syair Arab dan sering dipakai untuk memuji-muji teman bicaranya, meskipun untuk basa-basi. Itulah yang membuatnya cepat akrab dan hangat dengan siapa pun.

Terakhir ketemu di PPIM saat acara bedah Disertasi Kang Usep Abdul Matin. Kang Usep, di Australia, menulis Disertasi tentang figur dan kiprah Kang Jalal sejak tahun 1980-an. Sebelum acara, para peneliti senior PPIM ngobrol dengan Kang Jalal. Saya ikut nimbrung di situ. Ketika saya tanya soal kampanye masif anti Syiah di Indonesia, gimana menurut Kang Jalal? Ia menjawab singkat, “Saya dan Tim sudah menelusuri. Ada aliran uang jutaan ****dari ***** (Kang Jalal menyebut satu negara) mau ‘menghabisi’ kami. Saya yakin, kalau aliran dana itu setop, maka akan surut/berkurang juga kampanye kebencian itu”.

Sebagai intelektual dengan latar belakang Ilmu Komunikasi dari Barat, Kang Jalal berjasa besar mendiskusikan model Islam Indonesia yang sangat khas, yang tidak didiskusikan oleh intelektual Muslim lain. Kehangatan, persahabatan, etos keilmuan, dan semangat mencari kebenaran adalah warisannya untuk kaum muda Muslim Indonesia. Damai jiwamu di alam baka, Kang Jalal.