Prof. Dr. Rd. Mulyadhi Kartanegara

(Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Ada suatu masa di mana di bawah kekuasaan Islam umat beragama (Muslim, Kristen, Yahudi, Zoroaster) bahu membahu membangun peradaban Islam yang agung. Misalnya salah satu penerjemah ulung yang menerjemahkan karya-karya Yunani dan Siryani di bawah naungan patron Muslim ke dalam bahasa Arab adalah Hunayn bin Ishak, seorang Kristen Nestorian.

Terjemahan-terjemahan beliau sangat bermanfaat dan digunakan oleh para sarjana Muslim sezamannya dan setelahnya. Guru logika dan filsafat al-Farabi dua-duanya adalah orang Kristen, Yuhanna bin Haylan dan Bisyr Matta bin Yunus.

Demikian juga salah satu murid terkemukanya adalah seorang pemikir Kristen yang hebat, Yahya bin ‘Adi, yang pada gilirannya juga menjadi guru seorang pemikir Muslim Abu Sulayman al-Sijistani. Salah seorang guru Ibn Sina, Abdullah Natili, adalah seorang Kristen yang kemudian masuk Islam. Salah seorang Murid Ibn Rusyd juga non-Muslim yang menyelundupkan karya-karya Ibn Rusyd ke Perancis, dan dengan begitu menyelamatkan karya-karya Ibn Rusyd dari pembakarannya oleh pengganti penguasa yang fanatik.

Demikian juga murid Jalaluddin Rumi, seorang sufi besar, bukan hanya dari kalangan Muslim tapi juga Yahudi, Kristen dan Joroaster. Inilah budaya agung yang dikembangkan para sarjana Muslim yang tidak memandang perbedaan agama sebagai penghalang berinteraksi dalam pendidikan, pergaulan sosial dan pembangunan peradaban.

Toleransi umat dan penguasa Muslim Andalusia (Spanyol) terhadap umat beragama lain, tercermin dari kenyataan bahwa umat Yahudi, seperti dinyatakan Cak Nur, mengalami masa renaisans mereka justru dalam pengayoman penguasa Muslim. Karena itu mereka (umat non-Islam) bahu membahu secara positif dan konstruktif, bersama kaum Muslimin, dalam membina sebuah masyarakat madani yang inklusif, humanistik, toleran, demokratik demi merealisasikan, dalam kehidupan nyata dan bukan hanya dalam retorika, Islam sebagai rahmatan lil-Alamin.