Prof. Dr. Rd. Mulyadhi Kartanegara

(Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Ada yang mengatakan: “Firman Allah itu yang hakiki adalah bilā ḥarfin wa lā shawtin, “tanpa huruf dan tanpa suara.” Yang membuatnya menjadi suara dan huruf sebagaimana kita kenal, yakni bersuara orang Arab dan berhuruf Arab, itu adalah kreasi budaya manusia. Maka Kitab suci adalah fiksi manusia, menggunakan piranti budaya manusia untuk membumikan firman Allah yang hakikinya berupa gagasan itu.”

Terlepas dari apakah kitab suci itu fiksi, menurut saya ungkapan di atas berpotensi menyesatkan dan memberi kesan bahwa al-Qur’an yang sudah tertulis adalah kreasi budaya dan bukan firman Tuhan yang sesungguhnya. Jumhur ulama mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kata-kata Allah yang disampaikan kepada Nabi tanpa perubahan dari pihak Nabi. Ia adalah firman Tuhan verbatim, gagasan dan redaksinya dalam bahasa Arab (lisānan Arabiyyan) berasal dari Allah melalui Jibril—sesuai perintah Allah. Nabi di sini hanya menerima, tidak mengubah suatu apa pun baik gagasan maupun suara (tulisan). Dan ini yang menjadikan al-Qur’an itu sakral. Memang kadang terjadi bahwa ada gagasan dari Allah dan diredaksi oleh Nabi, tapi itu dibedakan dari al-Qur’an, dan dinamakan hadis Qudsi. Dalam kasus di mana gagasan dan redaksinya dari Nabi itu disebut Hadis atau Sunnah. Inilah pendapat yang lurus. Ini adalah pandangan kaum ulama yang sudah masyhur.

Pendapat yang terkutip di atas bisa menimbulkan kesalahpahaman, yang akan mengarahkan kepada pandangan bahwa al-Qur’an adalah produk budaya atau ciptaan manusia, sebagaimana yang diungkapkan oleh kaum Orientalis bahwa al-Qur’an adalah karangan Nabi Muhammad.

Pertanyaannya bagaimana mungkin Nabi Muhammad dapat berkomunikasi dengan malaikat Jibril? Henri Corbin dalam bukunya Spiritual Earth and Celestial Body menerangkan, bahwa pewahyuan sebenarnya terjadi di alam misal (mundo inaginalis), di mana yang materi bisa dispiritualkan dan yang spiritual bisa dimaterialkan. Jadi menurut keterangannya, ketika terjadi pewahyuan, jiwa Nabi yang suci bisa memasuki alam misal—yang sifatnya agak mirip dengan alam mimpi—dan malaikat Jibril dari dunia spiritual membawa firman Tuhan yang belum berbentuk ke alam misal. Setelah tiba di alam misal, firman Tuhan yang dikatakan bilā ḥarfin walā shawtin telah berubah menjadi bersuara dan berhuruf dan kemudian diterima Nabi sebagai suara ataupun huruf. Jadi al-Qur’an bukan kreasi Nabi sendiri. Al-Qur’an yang diterima oleh Nabi dari Jibril adalah Firman Tuhan yang murni dan sakral, dan bukan hasil rekayasa dan produk manusia. Pelabelan Nabi dengan ummiyy menurut SH Nasr adalah untuk memurnikan al-Qur’an dari campur tangan Nabi. Karena itu, menurut saya, firman Tuhan adalah hakiki bukan fiksi dan tidak pula bersifat fiktif. Allah berfirman al-aqqu min rabikum, walā takūnanna min al-mumtarīn: “kebenaran berasal dari Allah, dan janganlah sejali-kali kamu menjadi peragu” dan ḥattā yatabayyana annahul-ḥaqqu – min rabbihim, yang artinya sehingga jelas bahwasanya ia (al-Qur’an) itu adalah berasal dari Allah. Allahu a’lam!.