Rifqi Muhammad Fatkhi Laksanakan Ujian Promosi Doktor

Auditorium SPs UIN Jakarta, Ushul_News — Keluarga Besar Fakultas Ushuluddin turut bahagia atas dilaksanakannya Ujian Promosi Doktor atas nama Dr. Rifqi Muhammad Fatkhi, MA pada Senin, 7 September 2020, dan menjadi Doktor ke-1222 Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebelumnya Rifqi Muhammad telah melaksanakan Ujian Work in Progress (WIP) Disertasi pada Rabu, 1 Juli 2020 via Aplikasi Zoom Cloud Meetings, saat dilansir dari akun instagram @spsuinjktofficial.

Rifqi Muhammad menulis disertasi berjudul “Kontestasi Nalar dalam Periwayatan dan Kodifikasi Hadis.” Penelitian yang dilakukannya itu dilatarbelakangi oleh adanya keragaman praktik keagamaan masyarakat muslim yang diasumsikan terjadi karena perbedaan paradigma masyarakat dalam berinteraksi dengan hadis, dan perdebatan seputar autentisitas dan otoritas hadis yang terjadi sejak masa generasi awal umat Islam hingga saat ini. Disertasi ini berupaya menegaskan hasil kajian Wael B. Hallaq (2005), Aisha Y. Musa (2007), Jonathan AC. Brown (2007), dan Stodolsky (2012) tentang posisi, singnifikansi, otoritas hadis dan karya hadis dalam bangunan hukum dan ideologi muslim sunni. Untuk itu, Rifqi ingin menguji dengan pertanyaan; bagaimana nalar hadis dan fikih berkontestasi dalam periwayatan dan kodifikasi hadis?

Dalam kesimpulannya, bahwa rekonstruksi dan reproduksi hadis sangat bergantung pada kuasa otoritas dan kegelisahan atau respons elite masyarakat yakni ulama terhadap kondisi politik dan sosial. Hadis juga direkonstruksi dan direproduksi dalam tiga semangat yang melandasinya, yaitu menjaga autentisitas, melanggengkan otoritas keagamaan, dan melestarikan segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah.

Kedua, produksi hadis dalam al-Jami’ al-Shahih karya al-Bukhari dan al-Jami’ al-Shahih karya al-Tirmidhi dilandasi oleh dua nalar utama, yaitu nalar hadis dan nalar fikih. Nalar hadis ditunjukkan melalui interes dan atensi yang kuat al-Bukhari dan al-Tirmidhi pada kerja-kerja seleksi dan verifikasi periwayat dan riwayat hadis (al-shina’ah al-haditsiyah), sementara nalar fikih tercermin pada kerja-kerja fikih (al-shina’ah al-fiqhiyah) berupa penyusunan sistematika penulisan kitab, pendapat pribadi, dan referensi fikih dalam kedua karya tersebut.

Ketiga, nalar yang menjadi semangat periwayatan dan kodifikasi hadis sejak masa sahabat sampai abad III/IX, adalah nalar yang terdapat di dalam karya al-Bukhari dan al-Tirmidhi tersebut, yaitu nalar hadis dan fikih.

Disertasi yang ditulis Rifqi Muhammad ini juga menunjukkan beberapa hal berikut: pertama, kontestasi kedua nalar tersebut pada akhirnya memapankan hadis sebagai noumena dan kajian hadis itu sendiri sebagai sebuah phenomena, baik dari sisi autentisitas dan otoritasnya. Kedua, diskursus hadis, dalam banyak hal, terbukti membentuk ajaran agama Islam dan polarisasi masyarakat muslim sejak generasi awal hingga saat ini. Ketiga, pola keberagamaan umat Islam sejak generasi awal umat Islam bahkan hingga saat ini didasari oleh nalar hadis normatif dan atau nalar fikih praktis.

Dalam proses sidang ini cukup menyita perhatian karena terkait bidang ilmu dari tim pengujinya. Diketahui bahwa Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar, MA bidang keahliannya Fiqih dan Ushul Fiqh, Prof. Dr. Zainun Kamaluddin Fakih, MA bidang keahliannya Filsafat Islam, Prof. Dr. Phil. Asep Saepudin Jahar, MA bidang keahliannya Ilmu Sosiologi Hukum Islam, Prof. Dr. M. Suparta, MA bidang keahliannya Pendidikan Agama Islam, dan Prof. Dr. Didin Saepudin, MA bidang keahliannya Sejarah dan Peradaban Islam.

Selaku penguji, Prof. Dr. M. Suparta, MA mempertanyakan terkait pembimbing dan penguji bukan dari ahli hadis. Dengan demikian, dapat dipastikan yang mengetahui betul tentang disertasi ini adalah selaku teruji. Selain itu, Prof Suparta juga menanyakan, apakah kontestasi harus dibenturkan? Jika demikian, maka yang ada adalah kepentingan bukan konflik. Prof Surparta menambahkan, bahwa orang yang cenderung bernalar hadis, maka semua hadis sahih maka dapat diamalkan. Begitu juga, bagi orang yang bernalar fikih, meski hadis itu dhaif pun masih bisa diamalkan dengan tetap memperhatikan proses dialog dan lihat konteks.

Menurut Rifqi Muhammad bahwa ketika memahami sebuah hadis hanya dengan sebab wurud itu dapat membahayakan karena dimungkinkan ada sebab lain. Dengan demikian, tidak perlu mempertentangkan nalar hadis dan fikih itu sendiri.

Kendati demikian, Alumni Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini tetap berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian yang dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat di bawah bimbingan Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar, MA dan Prof. Dr. Zainun Kamaluddin Fakih, MA, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Phil. Asep Saepudin Jahar, MA, Prof. Dr. Zainun Kamaluddin Fakih, MA, Prof. Dr. M. Suparta, MA dan Prof. Dr. Didin Saepudin, MA serta berhasil meraih predikat Cum Laude. (mnts)