Nanang Tahqiq dan Falsafah sebagai Panggilan hidupnya

Nanang Tahqiq adalah salah satu murid langsung Prof. Harun Nasution di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia adalah bagian dari generasi yang ikut mencicipi rasionalisme Harun dalam ilmu Kalam dan Falsafah. Belakangan, rasionalisme falsafah itu tampak menjadi panggilan hidupnya.

Dengan berbekal pengalaman studi di Program Pascasarjana di McGill University, Montreal, Kanada, ia kembali ke Indonesia dan menjadi pengajar matakuliah-matakuliah Falsafah Islam di almamaternya, Fakultas Ushuluddin, IAIN/UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, ia juga pernah mengajar juga di Universitas Paramadina yang dipimpin oleh Nurcholish Madjid. Dalam seminggu, ia pergi dari rumahnya di Cakung (Jakarta Timur) ke Mampang (Paramadina) dan Ciputat (UIN) untuk mengajar falsafah.

Selain mengajar, Nanang Tahqiq juga aktif dalam kegiatan-kegiatan penelitian dan publikasi bidang falsafah. Hasil-hasil penelitiannya bisa dibaca dalam berbagai artikel yang diterbitkan di beberapa jurnal. Hingga akhir 2018, ia sendiri dipercaya untuk memimpin penerbitan Jurnal Ilmu Ushuluddin, sebuah jurnal yang dikelola oleh Himpunan Peminat Ilmu-ilmu Ushuluddin (HIPIUS) dan dikerjasamakan dengan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Artikel-artikel Nanang Tahqiq yang pernah dipublikasikan di Jurnal Ilmu Ushuluddin dan jurnal-jurnal lainnya kemudian dikumpulkan, diperbaiki dan diterbitkan ulang menjadi sebuah buku berjudul Asas-asas Falsafah Islam (2016). Penerbit buku ini adalah HIPIUS. Belakangan, buku ini menjadi bahan bacaan wajib untuk para mahasiswa yang diajar olehnya di kelas Pengantar Falsafah Islam.

Sebagai pengajar dan peneliti dalam bidang falsafah Islam, harapannya adalah menjaga dan mengembangkan tradisi berpikir rasional sebagaimana telah dicontohkan oleh falasifah seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Khaldun, dll. Ia mendorong dan membantu para mahasiswa untuk memahami alam pikiran falasifah untuk kemudian mengembangkannya dalam konteks kemodernan dan keindonesiaan.

Untuk tujuan itu, ia juga berinisiatif untuk menerjemahkan berbagai karya tentang falsafah dari bahasa Arab dan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Tujuannya jelas, yaitu: Membantu dan memudahkan para mahasiswa dan peminat kajian falsafah untuk memahami pikiran-pikiran faylasuf besar. Dengan terjemahan tersebut, ia berharap falsafah menjadi bidang kajian yang mudah dimasuki dan dipelajari oleh banyak orang, khususnya anak-anak muda dan para pemula.

Buku pertama dalam bidang falsafah yang diterjemahkannya adalah ulasan Miguel Ahsin Palacios tentang Ibn Massarah. Dalam bahasa Indonesia, buku itu diterjemahkan dengan judul Ibn Massarah. Faylasuf Muslim Spanyol Pertama. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit HIPIUS pada 2017. Belakangan, saya mendengar bahwa buku terjemahan ini sedang direvisi di beberapa bagian untuk diterbitkan ulang.

Buku kedua dalam bidang falsafah yang diterjemahkannya adalah Kitab Tadbir al-Mutawwahid karya Ibn Bajjah versi suntingan Ma’an Ziyadah. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, buku ini diberi judul Rezim Sang Faylasuf. Meskipun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buku ini juga menyertakan teks asli berbahasa Arab Tadbir al-Mutawwahid. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Turos pada 2018.

Buku ketiga dalam bidang falsafah yang sedang diterjemahkannya adalah Kitab Mabadi Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah karya Abu Nashr al-Farabi. Untuk proyek penerjemah terakhir ini, ia tampaknya mengalami sedikit kesulitan. Selain bahwa teks-teks al-Farabi memang dikenal ditulis secara sengaja dengan cara yang sopisticated, Nanang Tahqiq sendiri melakukan penerjemahan buku itu dalam keadaan sakit. Ia menerjemahkannya dengan tertatih-tatih di sela-sela rutinitasnya mengajar dan cuci darah di RS dua kali dalam seminggu.

Terkait dengan penerjemah buku al-Madinah al-Fadhilah itu, saya pribadi diminta bantuan oleh Kak Nanang (demikian, saya biasanya memanggilnya) untuk membaca ulang setiap draft bab terjemahannya. Kebetulan, saya pribadi pernah membaca kitab al-Madinah al-Fadhilah itu bab demi bab dalam kajian yang saya lakukan pada Ramadhan beberapa tahun sebelumnya. Kami berdua mendiskusikan draft terjemahan buku itu via WA atau email. Harapannya adalah agar terjemahan buku ini bisa terbit pada awal 2021.

Komunikasi terakhir yang kami lakukan adalah via email pada 20 Desember 2020. Pesan dalam email itu diberi judul “Mentok, euy,” yang diikuti oleh kalimat pengantar: “Tinggal dikit lagi bab terakhir tapi sulit, euy.” Di dalam lampiran, ada 37 bab draft terjemahan al-Madinah al-Fadhilah karya al-Farabi, lengkap dengan cover buku, pengantar bulu, dll. Setelah saya lihat isinya, draft itu sudah hampir jadi. Selain kurang satu bab terakhir, terjemahan itu tinggal dibaca ulang, sunting, lay-out dan kemudian bisa diterbitkan.

Belakangan, saya baru menyadari bahwa itu adalah komunikasi terakhir kami. Saya sempat kirim WA tapi tidak dibacanya. Ternyata, berdasarkan informasi yang diperoleh dari beberapa orang dekatnya, beliau masuk rumah sakit dan sempat tidak sadarkan diri. Setelah sempat mendapat kabar kesembuhannya satu atau dua hari lalu, kabar duka itu tiba-tiba datang pagi hari ini. Di WAG, berita wafatnya dengan cepat menyebar. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Selamat jalan Kak Nanang. Kami telah kehilangan sosok orang yang sangat baik, jujur, bersahabat, humoris, tapi sekaligus juga kritis. Kami juga telah kehilangan seorang pengajar dan peneliti bidang falsafah yang bersemangat dan berdedikasi. Adalah sebuah kebahagiaan bagi saya pribadi untuk bisa kenal dan banyak belajar dari Kak Nanang, sosok yang telah menjadikan falsafah sebagai panggilan hidup. (Iqbal Hasanuddin)