Kolom Dosen

Siapa yang Dimurkai dalam Surat Al-Fatihah

Oleh : Prof. Dr Nasaruddin Umar, MA (Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin)
Melalui pengenalan awal nama dan sifat-Nya di dalam awal surah (al-Fatihah) seolah menafikan sifat-sifat kemurkaan dan sifat-sifat masculine dan struggle yang juga dimiliki-Nya.

Tidak heran jika kalangan ulama Tafsir Isyari memperkenalkan surah al-Fatihah sebagai simbol kasih-sayang Tuhan. Itulah sebabnya di dalam QS al-Fatihah disebutkan, al-magdh�b ‘alaihim (yang dimurkai atas mereka), tidak dikatakan: gadhabtu ‘alaihim (Aku murkai atas mereka).

Tidak jelas di dalam ayat ini siapa yang memurkai. Boleh jadi, dimurkai oleh para makhluk-Nya karena manusia yang berdosa memang pasti dimurkai bukan saja sesama manusia, tetapi oleh para makhluk-Nya yang lain. Kebencian para makhluk sudah cukup membuat seseorang tersiksa.

(Baca: Memahami Sifat Rahmat dan Gadhab Allah)

Bahkan, boleh jadi siksaan makhluk lebih pedih jika Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menyiksa hamba-Nya. Mungkin, sebelum menyiksa hamba-Nya maaf-Nya datang lebih awal. Akan tetapi, jika makhluk-Nya yang menyiksa, misalnya, para malaikatnya, tentu mereka tidak punya kewenangan memaafkan.

Sifat kasih sayang menenggelamkan sifat kebencian-Nya dapat dipahami melalui sejumlah pernyataan-Nya di dalam Alquran, antara lain, “…wa la yadhlim Rabbuka ahadan” (Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun) (QS al-Kahfi [18]:49);

“Wa ma Rabbuka bi dhallamin li al-‘abid” (Sekali-kali Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya) (QS Fushilat [41]:46).

Belum lagi jika dihubungkan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba sekaligus sebagai khalifah (QS al-Baqarah [2]:30), manusia diciptakan sebagai makhluk paling baik (ahsan taqwim) (QS at-Tin [95]:4), dan Allah SWT sejak awal selalu memuliakan manusia (Wa laqad karramna bani Adam) (QS al-Isra’ [17]:70).

Dari gambaran umum surah al-Fatihah dapat dipahami bahwa sesungguhnya tidak ada alasan bagi makhluk-Nya, khususnya manusia untuk putus asa, bersikap pesimistis, dan frustrasi. Sebaliknya, seharusya manusia bersyukur dan penuh optimisme bahwa dirinya diciptakan dengan cinta oleh Tuhan Yang Maha Pencinta dan pada saatnya akan kembali kepada Diri-Nya Yang Maha Pencinta.