Hidup adalah Kompetisi

Oleh: Prof. Dr. Masri Mansoer, M.Ag

“Hidup adalah takdir, memilih dan mengisi jalan hidup dengan perjuangan dan kompetisi, jadilah kompetitor yang baik menurut Sang Khalik”

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS al-Baqarah: 29).

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS al-Mulk: 2).

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, kecuali permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS al-An`am: 32)

Segala sesuatu diciptakan oleh Allah Yang Maha Alim lagi Maha Kuasa pasti mempunyai planning dan tujuannya, sebab tidak ada yang diciptakan Allah itu tanpa tujuan dan rencana. Seperti Allah menciptakan siang-malam, bumi-langit, surga-neraka, daratan-lautan, makhluk hidup-benda mati, makhluk berakal-tidak berakal, makhluk fisik -makhluk ghaib, dan lain sebagainya. Semuanya itu untuk bukti kemaha Esaan, Kemaha Kuasaan, Keagungan dan Kemahaadilan Allah SWT.

Mengetahui dan mempelajari semua ciptaan Allah adalah suatu keniscayaan bagi kita orang yang beriman agar kita bisa mengolah dan memanfaatkan semua ciptaan Allah itu untuk meningkatkan ketaqwaan, keimanan dan bersyukur kita. Karena semua yang diciptakan oleh Allah itu adalah untuk kita manusia (QS al-Baqarah: 29) dan Allah hendak menguji siapa yang terbaik amalannya diantara kita (QS al-Muluk: 2).

Hidup adalah sebagai arena untuk berkompetisi menjadi hamba Allah yang terbaik dan mulia, sebab kemuliaan seorang hamba dalam perspektif Allah bukan dinilai dari seberapa banyak ilmunya, seberapa banyak pengikutnya, seberapa besar pengaruh dan kekuasaannya, seberapa tinggi jabatannya, seberapa banyak harta kekayaannya dan atribut dunia lainnya, bukan itu ukurannya. Melainkan mereka yang dipandang mulia oleh Allah adalah orang yang taqwa diantara kita (QS al-Hujarat: 13). Maka dari itu marilah kita berkompetisi menjadi hamba Allah yang terbaik dan janganlah kesenangan hidup di dunia ini menjadikan takastur, tertipu dan terpedaya (QS al-Hadid: 20) sehingga kita lalai kepada Allah dan tidak mempersiapkan kehidupan kita yang haq dan abadi nanti (kampung akhirat).

Al-Qur’an menggambarkan hakikat kehidupan di dunia ini agar kita dalam berkompetisi dapat meperhatikannya tidak terlena dalam urusan dunia, dan melupakan kehidupan akhirat.

Pertama, al-la’ibu wa-lahwn (permainan dan sendiwara). Kehidupan di dunia ini bagaikan permaian-mengasikan dan sendiwara-membuat kita terpesona, lalai dan lupa dari tujuan hidup yang hakiki yaitu kampung akhirat, karena itu janganlah pernah menganggap dunia ini sebagai tujuan hidup kita, dia adalah jembatan dan ladang kita untuk akhirat, maka tanamilah dengan keimanan, ketaqwaan, amal shaleh dan kabajikan.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, kecuali permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak memahaminya?” (QS al-An`am: 32)

Kedua, al-Ziinah (perhiasan). Kehidupan dunia ini adalah asesoris (perhiasan) yang semua manusia menyenanginya, yaitu berupa wanita, keturunan, harta dari jenis emas dan perak, kuda pilihan/kendaraan, binatang ternak, sawah ladang, dan lain sebagainya. Semuanya adalah sarana bagi kita dalam beribadah, bersyukur dan berbuat berbagai kebajikan, bukan tujuan hidup kita. Karena itu jangan alat dijadikan sebagai tujuan, agar kita tidak terpedaya. Firman Allah yang artinya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS Ali Imran: 14).

Ketiga, al-Ghurur (tipuan). Penggambaran kehidupan dunia dengan al-ghurur, karena pasangan, anak, harta-kekayaan, pekerjaan, pangkat, jabatan, dan lain sebagainya dapat menipu, melalaikan dan melupakan kita untuk menghadap Allah SWT. Berbagai kesenangan di dunia ini adalah imitasi (palsu) kesenangan akhiratlah yang sebenarnya. Karena itu janganlah tertipu dengan kehidupan dunia ini, apalagi kalua mengunakan tipuan untuk mendapatkan kesenangan di dunia ini, amat sangat rugi kita. Allah SWT berfirman: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang manipu/memperdayakan” (QS Ali Imran: 185).

Keempat, al-Takatsur (tempat berbangga-bangga). Kehidupan di dunia ini tempat orang berkompetisi dan berbangga-bangga dengan banyaknya keturunan, harta-kekayaan, pengaruh-pengikut, pengakuan-penghargaan dan lain sebagai, sampai manusia itu masuk ke dalam kubur. Makanya manusia akan bangga ketika mereka berhasil dalam mendapatkan hal itu semua. Karena itu janganlah atribut-atribut dunia ini membuat kita lupa akan kehidupan akhirat, jadikanlah semua yang kita miliki di dunia ini ladang dan bekal kita di akhirat nanti, sebab semua kita akan pulang kampung akhirat dan perlu bekal dan sebaik-baik bekal adalah takwa.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak” (QS al-Hadid: 20).

Kelima, al-Mata`ul qalil (kesenangan yang sebentar). Kehidupan di dunia ini hanya kesenangan yang sebentar, sesaat dan tidak abadi dan kehidupan di akhiratlah kenikmatan yang sesungguhnya dan abadi, karena itu janganlah kita menjadikan kehidupan di dunia sebagai tujuan kita dan melupakan persiapan hidup yang abadi di akhirat nanti.

Nabi SAW bersabda yang artinya: “Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat sperti halnya memasukkan satu jarinya ke dalam Samudra yang luas, lalu lihatlah apa yang tersisa pada  jarinya itu” (HR. Muslim).

Para penghuni dunia ini ingin selalu saling berbangga dengan kekayaan, kekuasaan, kekuatan, keturunan, kedudukan, dan sebagainya. Mereka ingin menjadi populer dalam urusan dunia, karena ketidaktahuannya. Sedangkan bagi mereka yang senantiasa waspada dan mengetahui hakikat kehidupan dunia, akan menjadikannya sebagai jembatan penyeberangan dan lading berbuat kebaikan. Dunia bukan tujuan akhir, tetapi sebagai sarana yang dapat mengantarkan kita menuju kebahagiaan yang hakiki.

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (QS Hud: 15-16).

Marilah selalu waspada-tidak tertipu dan perpedaya oleh kehidupan di dunia ini agar kita tidak menyesal atau rugi pada kehidupan akhirat nanti. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang benar. Terimakasih, mohon maaf. Astaghfirullahal `azhmin wa atubuu ilaihi. (editor: ns)

* Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

** Versi video dapat dilihat di https://youtu.be/JnLd1d6ZqWk.

Sumber: UIN Jakarta