Guru Besar UIN Jakarta: Humor Perlu Dipopulerkan

Ciputat, Ushul_News— Humor menjadi salah satu asupan rohani yang dibutuhkan manusia seperti halnya minuman-makanan sebagai asupan jasmani. Humor dibutuhkan manusia sebagai penyeimbang dirinya dalam merelaksasi tekanan hidup yang dihadapinya. Di situasi pandemi, humor perlu dipopulerkan sebagai bagian dari pengobatan medis yang murah.

Demikian benang merah Webinar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta bertajuk Islam dan Filosofi Humor, Selasa (20/10/2020). Acara yang dipandu moderator Dosen Filsafat Islam Nanang Tahqiq MA menghadirkan dua narasumber, Direktur Pascasarjana IAIN Cirebon Profesor Dedi Djubaedi, Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta Profesor Amsal Bakhtiar, dan Komika Muhammad al-Jufri.

Dalam paparannya, Profesor Amsal mengutip pendapat Ibnu Sina yang mendefinisikan manusia sebagai makhluk berakal. Dengan akal, manusia menalar hal-hal yang menarik perhatiannya. Namun, jelas Amsal, pendapat Ibnu Sina bisa disempurnakan kembali bahwa manusia merupakan makhluk humoris yang digunakannya sebagai relaksasi atas beban hidup sekaligus perayaan kehidupan.

Manusia juga merupakan makhluk yang terdiri dari fisik dan rohani. Kebutuhan fisik dipenuhi dengan asupan udara, minuman, makanan, dan tempat tinggal yang membuat fisiknya nyaman dan terjaga. Sedang kebutuhan rohani perlu dipenuhi asupan rasa senang, gembira, dan bahagia.

“Dan, salah satu asupan jiwa yang sangat penting adalah humor. Karena dengan humor manusia bisa bahagia. Kalau bahagia, jiwanya menjadi tenang. Jika sudah tenang, daya imun tubuhnya juga semakin kuat,” paparnya.

Untuk itu, jelasnya lagi, kebutuhan dasar manusia secara fisik bertingkat dari udara, air, pangan, sandang, papan dan seterusnya. Begitu juga kebutuhan jiwa yang tertinggi adalah rasa bahagia.

Sebagai alat relaksasi, sambungnya, humor sangat relevan untuk dinikmati manusia setiap harinya. Terlebih dalam situasi pandemi Covid 19, humor bisa membuat bahagia penikmatnya.

“Jadi humor itu adalah kebutuhan dasar manusia, jangan meremehkan. Nikmatilah humor sebanyak-banyaknya tentu Anda akan sehat dan bebas dari segala kepanikan, termasuk panik menghadapi covid 19,” tuturnya lagi.

“Kalau ada istilah One Day On Juz atau ODOJ, maka boleh juga One Day One Humor atau ODOH. Atau paling sedikit tertawa lepas satu kali dalam sehari,” tambahnya.

Senada dengan Profesor Amsal, Profesor Dedi menyepakati pentingnya humor untuk dipopulerkan di masyarakat. Menurutnya, humor merupakan produk kreativitas berpikir untuk mencerna ide dan realitas untuk kemudian dikonstruksikan dalam ungkapan bahasa dan sikap yang lucu dan menimbulkan tawa.

Dari efek yang ditimbulkannya, humor menjadi positif dalam membangun keseimbangan jiwa manusia. “Salah satu unsur medical paling bermanfaat adalah ketawa, tersenyum. Dari tersenyum dan tertawa, manusia bisa menurunkan tensi, tekanan yang dialaminya,” tambahnya.

Sementara itu, Komika al-Jufri menuturkan, proses kreatif humor yang ditekuninya kini memiliki banyak fungsi. Selain hiburan, humor juga berfungsi sebagai kritik atas realitas yang tak lazim di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kritik ini dikemas dengan gaya bahasa dan gestur menarik sang komika sehingga hal lucu dan kritik bisa disampaikan tanpa harus menyinggung pihak-pihak yang jadi sasaran. (zm)