FU dan ICC Jakarta Gelar Silaturahmi dan Diskusi

Fakultas Ushuluddin (FU) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan Islamic Cultural Center (ICC) menggelar agenda Silaturahmi dan Diskusi dengan tema Persatuan Umat dan Moderasi Beragama di Gedung ICC Jakarta pada Minggu (27/10/2019). Kegiatan ini dimulai pukul 09.30 hingga 11.30 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Pemateri dalam kegiatan ini adalah Rektor Hauzah Ilmiah Republik Islam Iran Prof. Dr. Ayatullah A’rafi, dan Dekan FU Dr. Yusuf Rahman, MA. sebagai penanggapnya.

Menurut Prof. Dr. Ayatullah A’rafi, Indonesia adalah salah satu negara yang terkenal dengan dengan perkembangan Islam dengan menggunakan jalan damai dengan berbagai lintas budaya, suku, dan bahasa. Pendekatan yang digunakan oleh muslim di Indonesia adalah pendekatan rasional dan kebudayaan.

“Dan pendekatan yang digunakan oleh muslim di Indonesia dengan pendekatan rasional dan pendekatan kebudayaan,” ungkap beliau.

Beliau menambahkan, revolusi Islam Iran adalah revolusi yang diharapkan bisa merangkul seluruh sudut pandang dan bisa menyatukan seluruh umat Islam yang ada di dunia. Namun, ada pertanyaan yang harus kita ajukan terlebih dahulu yakni: Apakah persatuan dan keharmonisan dalam umat Islam apakah bersifat sekunder atau primer?

“Apakah persatuan dan keharmonisan dalam umat Islam apakah itu sifatnya sekunder atau kita melihatnya bersifat primer. Dan hal itu berpulang pada apakah umat Islam dapat bersatu,” kata beliau.

Ada tiga teori yang dipaparkan oleh Prof. Ayatullah. Teori pertama menyebutkan bahwa persatuan umat Islam bukan persoalan primer, dan itu persoalan sekunder. Musuh-musuh Islam memandang persatuan umat Islam sebagai penghalang bagi kepentingan mereka. Teori kedua menyebutkan keberagaman teori sosial, kultural, dan politik, persatuan umat ini memiliki akar yang sangat dalam dan menjadi suatu persoalan yang sangat penting. Dan ada juga yang tidak terlalu menjadikan persatuan agenda utama, karena status mereka sebagai minoritas.

“Pertama menafikan persatuan, kedua persatuan sebagai sekunder, ketiga persatuan sebagai prioritas dan menjadi agenda utama seluruh umat Islam di dunia,” lanjut beliau.

Sementara itu, Dekan FU Dr. Yusuf Rahman, MA. mengatakan, kajian akademik di Iran sudah sangat berkembang. Kajian-kajian seperti filsafat, keislaman, turats, dan kajian-kajian al-Qur’an hadis sudah berkembang pesat.

“Yang saya tahu bahwa kajian akademik di Iran sangat berkembang. Kajian filsafat, keislaman, dan turats sangat berkembang. Kajian Qur’an dan hadis khususnya,” jelas beliau.

Di Iran sedang mengadakan proyek penerjemahan karya-karya sarjana dalam berbagai bahasa ke dalam bahasa Persi. Hal ini bertujuan untuk memudahkan mahasiswa dan dosen Iran untuk membaca, memahami, dan mengkritisi karya-karya tersebut.

Menurut Dekan FU, Indoneisa perlu belajar banyak dalam hal kemampuan berbahasa kepada Iran. Permasalah yang sering dialami oleh akademisi Indonesia adalah kurangnya kemampuan berbahasa asing.

“Kiranya di Indonesia ini perlu belajar dalam hal itu. Dalam karya-karya primer yang banyak tidak diketahui oleh dosen dan mahasiswa. Sehingga mereka banyak membaca dari literatur sekunder. Ini adalah permasalahan utama di Indonesia,” papar beliau.

Dr. Yusuf Rahman, MA. sepakat bahwa tema diskusi ini. Ia mengatakan, masalah primer yang dihadapi masyarakat muslim terutama di Indonesia salah satuhya adalah konflik antarumat beragama. Selain itu, konflik intraagama juga menjadi permasalahan utama. Ini menjadi permasalahan mayoritas dan minoritas. Sehingga tema tentang persatuan umat dan moderasi menjadi sangat penting untuk dicarikan solusinya. Sampai saat ini berbagai usaha telah dilakukan tapi masih banyak umat Islam yang masih belum menerima kelompok minoritas.

Mulai dari zaman Nabi Muhammad Saw. hingga sekarang perbedaan pendapat dalam persoalan mazhab dan penafsiran teks suci selalu ada. Perbedaan penafsiran akan teks al-Qur’an dan hadis tidak akan pernah selesai, bahkan hingga akhir zaman. Hal ini disebabkan pengaruh berbagai faktor.

“Jika merujuk pada kajian al-Qur’an, tafsir terhadap al-Qur’an tidak pernah selesai. Bahkan hingga akhir kiamat tidak akan selesai karena itu dipengaruhi oleh berbagai faktor,” kata beliau.

(yud/zham)