Fakultas Ushuluddin Gelar Diskusi Dosen Kelima

Fakultas Ushuluddin (FU) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar diskusi dosen untuk yang kelima kalinya pada tahun 2019. Kegiatan ini diselenggarakan di Ruang Teater FU pada Senin (21/10/2019) dimulai sejak pukul 13.30 hingga 16.30 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Presenter pada diskusi dosen kali ini adalah Guru Besar Fakultas Ushuluddin Prof. Dr. M. Ridwan Lubis, M.A. dengan judul makalah Soekarno dan Modernisme Islam, dan Ketua

Program Studi Ilmu Tasawuf Ala’I Nadjib, M.A. dengan judul Menyusui antara Hak dan Kewajiban Moral Ibu: Studi Etnografi Hadis Radha’ah di Kudus Jawa Tengah. Sedangkan reviewer pada kegiatan ini adalah Dr. Ervan Nurtawab, M.A, dan Rifqi M. Fatkhi, M.A.

Menurut Prof. Ridwan gagasan pemikiran Soekarno tentang Islam pada dasarnya ditemukan dalam dua kumpulan tulisan yaitu Surat-surat Islam Dari Endeh; dan berbagai artikel beliau di majalah Pandji Islam yang terbit di Medan antara tahun 1939 dan 1940. Surat-surat Islam Dari Endeh berjumlah 12 risalah sebagai hasil korespondensi beliau dengan Ahmad Hassan seorang keturunan Tamil yang berasal dari Singapura kemudian menetap di Bandung yang menjadi penggerak berdirinya organisasi Persatuan Islam (Persis) yang kemudian melebar ke Bangil Jawa Timur.

Isi dari surat-surat itu adalah kegelisahan intelektual Soekarno melihat kondisi umat Islam yang kemudian ia tuangkan dalam tulisan dari tempat pembuangnya di Endeh, Flores. Berbagai tulisan itu kemudian dibukukan kembali oleh panitia yang kemudian menjadi buku yang cukup tebal dengan judul Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I dan II. Berbagai ucapan dan pidato Soekarno dikutip sebagai berikut.

“Tulisan-tulisan itu pada akhirnya dijadikan buku dalam dua jilid tebal, namanya itu Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I dan II,” ungkap beliau.

Lebih jauh beliau mengatakan bahwa ada tiga pemikiran Soekarno tentang karakter Islam. Pertama, tidak ada agama yang mengajarkan persamaan derajat melebihi Islam. Kedua, Islam itu rasional dan simplicity. Ketiga, Islam adalah kemajuan. Islam selalu mendorong umatnya memiliki wawasan optimis ke depan. Oleh karena itu, manakala ada yang berpandangan bahwa umat Islam harus menyerah kepada takdir dalam arti pasrah maka hal itu bukanlah ajaran Islam karena umat Islam harus berusaha merubah keadaannya sendiri.

“Karena itu, ketika ada orang Islam yang memiliki pandangan bahwa umat Islam itu harus menyerah kepada takdir dalam arti pasrah, maka itu bukan ajaran Islam. Orang Islam itu harus ada usaha untuk mengubah keadaannya sendiri,” kata beliau.

Sementara itu, Ala’I Nadjib, M.A. mengatakan, penyusuan dalam Islam sangat penting, sejak zaman Nabi Muhammad Saw. hingga era global saat ini. Pengalaman Nabi Muhammad Saw. saat bayi yang disusui oleh tiga orang perempuan adalah salah satu buktinya. Disusui ibu kandungnya, Aminah, lalu Tsuwaibah, dan Halimatus Sa’diyyah.

Perempuan muslimah di Kudus, tambah beliau, selain bekerja di publik, tidak sedikit juga yang hafal al-Quran dan menjadi guru hadis. Menyusui bagi muslimah di Kudus bukan hanya karena budaya, tetapi juga dilandasi oleh teks agama.

“Menyusui bagi perempuan muslimah di Kudus itu bukan cuma masalah budaya, tapi juga dilandasi oleh teks agama,” papar beliau.

(yd/zhm)