FU Adakan Diskusi Dosen Tentang Epistemologi Islam

Fakultas Ushuluddin (FU) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali mengadakan diskusi dosen untuk yang keenam kalinya pada tahun 2019. Kegiatan ini diadakan di Meeting Room FU pada Senin (21/10/2019) dimulai sejak pukul 13.30 hingga 16.00 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Presenter pada diskusi dosen kali ini adalah Dr. Faris Pari, M.Fils dan Drs. Nanang Tahqiq, MA. dengan tema Epistemologi Islam: Sumber-sumber Pengetahuan. Drs. Nanang Tahqiq, MA. menjelaskan tentang epistemologi indra dan akal, sedangkan Dr. Faris Pari, M.Fils menjabarkan tentang epistemologi rasa. Sementara moderator pada kali ini adalah Drs. Agus Darmaji, M.Fils.

Menurut Drs. Nanang Tahqiq, MA. epistemologi membahasan tentang sumber pengetahuan dan cara untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Bagi beliau, epistemologi hanya ada dua yakni epistemologi akal dan epistemologi indra.

“Epistemologi adalah berbicara mengenai sumber pengetahuan dan cara bagaimana memperoleh pengetahuan. Ada sumbernya ada caranya. Kebetulan dari sisi saya, epistemologi hanya dua, jadi cara dan sumbernya sama. Caranya akal sumbernya akan. Caranya indra sumbernya indra,” ucap beliau.

Empiris dalam bahasa latin disebut sensus communis, dalam Bahasa Inggris disebut common sense, dan dalam bahasa Indonesia disebut panca indra. Panca indra terbagi menjadi lima yakni indra pendengaran, indra penglihatan, indra penciuman, indra pengecap, dan indra peraba.

“Empiris bahasa latinnya sensus communis. Bahasa kita panca indra. Bahasa Inggris common sense. Itu ada lima. Nah dari lima indra, bisa tahu karena dilihat, bisa tahu karena didengar, bisa tahu karena dicium, tidak dilihat tapi diraba, engga bisa definisi sesuatu kecuali dikecap,” kata beliau.

Dr. Faris Pari, M.Fils mengatakan bahwa konsep epistemologi rasa beliau terinspirasi dari al-Qur’an.

Menurut Dr. Faris Pari, M.Fils pembahasan mengenai epistemologi tidak bisa dilepaskan dari pemabahsan ontologi. Beliau menambhakan, ontologi tidak bermakna jika tidak ada epistemologi, epistemologi tidak berfungsi jika tidak ada ontologi.

“Kita bicara epistemologi tidak bisa lepas dari ontologi. Saya suka mengemukakan, ontologi tidak bermakna jika tidak ada epistemologi, epistemologi tidak berfungsi jika tidak ada ontologi. Problemnya ini dua hal yang berbeda, terpisahkan tapi dia kesatuan tidak bisa dipisahkan,” ujar beliau.

(yd/zm)