Daya-daya Jiwa Manusia

Oleh: Prof. Dr. Masri Mansoer, M.Ag

Manusia adalah makhluk paling baik sebagai ciptaan Allah. Mereka merupakan alam mikrokosmos, sebab semua unsur yang ada pada alam makrokosmos ada pada manusia, terutama dari aspek rohani (jiwa). Pada jiwa manusia ada unsur/daya jiwa tumbuhan nabatiyah, daya jiwa ghadab (hewaniyah) dan daya nathiqah (insaniyah). Untuk itu kita perlu mengenal daya-daya jiwa tersebut agar dapat memelihara dan mengoptimalkan hidup kita. Allah SWT berfirman: Hai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu berbuat durhaka terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia, yang telah menciptakan engkau secara sempurna dan seimbang (QS al-Infitar: 6-7). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman: Hai Daud! Janganlah kami mengikuti haw nafsu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah (QS Shad: 26). Allah SWT juga berfirman: Sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada keburukan kecuali nafsu yang diberi Rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang (QS Yusuf: 53).

Kita perlu mengenal diri dan daya jiwa yang mendasari tingkah laku kita agar kita bisa menjadi insan yang fadhilah (utama) dalam menjalani dan mengisi hidup ini.

Manusia terdiri dari dua unsur jasad dan jiwa. Jiwa memiliki tiga daya utama, yaitu dimensi nabati (al-nabatiyyah), dimensi hewani (al-hayawaniyyah/ghadabiyah), dan dimensi insani (al-insaniyyah/nathiqah). Dua daya jiwa akan mengikuti mati ketika jasad kita sudah hancur menjadi tanah kembali, dan yang tetap ada sampai kiamat adalah jiwa insaniyah (disebut juga ruh).

Dimensi nabatiyah/tetumbuhan memilki fungsi nutrisi (al-qhaadiyyah), fungsi pertumbuhan (al-naamiyah), dan fungsi reproduksi (al-muwallidah). Sedangkan pada dimensi hewani ada fungsi: motivasi (al-muharrikah) dan persepsi (almudrikah). Dua daya jiwa ini ada pada tumbuhan dan hewan, kalau yang dominan kedua daya ini dalam diri manusia maka perilakunya akan mencerminkan perilaku tumbuhan dan binatang.

Dimensi insani memiliki potensi akal praktis dan akal teoritis. Akal praktis adalah akal yang mempu berpikir sederhana dan alamiah. Seperti lima lebih kecil dari sepuluh, besi lebih keras dari kayu dan seterusnya. Akal teoritis terdiri dari: akal material, akal potensial, akal aktual, dan akal perolehan (akal mustafad). Akal mustafad ini adalah akal para Rasul dan filosof. Hanya bedanya bagi para Rasul tidak melalui belajar dan latihan, tetapi bagi para filosof melalui belajar dan latihan berat. Rara Rasul menerima wahyu sementara filosof tidak.

Setiap daya jiwa memiliki keutamaan. Ibnu Miskawaih berpendapat bahwa keutamaan adalah titik tengah antara dua kutub yang ektrem, yaitu terlalu berlebihan dan terlalu kurang.

Posisi tengah daya bernafsu adalah ‘iffah (menjaga kesucian diri) yang terletak antara mengumbar nafsu (al-syrarah) dan mengabaikan nafsu (khumudusy  syahwah). Posisi tengah daya hewani/ghadab adalah syaja’ah (keberanian) yang terletak antara pengecut (al-jubnu) dan nekad (al-tahawwur). Posisi tengah daya berpikir adalah kebijaksanaan (al-hikmah) yang terletak antara kebodohan (al-safih) dan kedunguan (al-balah).

Kombinasi dari tiga keutamaan di atas membuahkan sebuah keutamaan berupa keadilan (al-`adalah). Keadilan ini merupakan posisi tengah antara berbuat aniaya/zalim dan teraniaya/dizalimi.

Setiap keutamaan mempunyai dua kutup ekstrem. Di tengah adalah yang terpuji dan yang ekstrem adalah tercela. Posisi tengah yang sebenarnya (al-wasath al- haqiqi) adalah satu, yaitu keutamaan (al-fadilah).

Al-‘iffah ( menjaga kesucian diri ) adalah keutamaan jiwa al-bahimiyyah/nabati. Keutamaan ini akan muncul pada manusia apabila nafsunya dikendalikan oleh akal dan sebaliknya keburukan bila akal dikendalikan oleh al-bahimiyyah. Sifat ini merupakan antara rakus (al-syarah) dengan dingin hati (khumud al-syahwat).

Rakus (al-syarah) adalah tenggelam dalam kenikmatan dan melampaui batas. Sedangkan khumud al-syahwat adalah tidak mau berusaha untuk memperoleh kenikmatan yang baik sebatas yang diperlukan oleh tubuh sesuai yang diizinkan syariat dan akal. Hidup apatis bahkan hanya mengharapkan balas kasihan orang lain itulah khumud al-syahwat.

As-syaja’ah (keberanian) merupakan keutamaan dari jiwa al-ghadabiyyah. Keutamaan ini muncul pada manusia sewaktu nafsunya dibimbing oleh jiwa nathiqah (akal). Sifat ini merupakan pertengahan antara pengecut (al-jubn) dengan nekad (al-tahawwur). Al-jubn adalah takut terhadap sesuatu yang seharusnya tidak ditakuti. Sebab itu al-jubn digolongkan sebagai ekstrem kekurangan. Adapun al-tathawwur digolongkan berani terhadap sesuatu yang seharusnya tidak diperlukan sikap ini. Oleh sebab itu, Al-tathawwur digolongkan sebagai ekstrem kelebihan.

Al-hikmah (kebijaksanaan adalah suatu keadaan jiwa yang memungkinkan seseorang membedakan mana yang haq (benar) dari yang salah, yang wajib dengan yang tidak wajib dalam semua keadaan secara sukarela tanpa ada tekanan atau paksaan

Kebijaksanaan adalah pertengahan (al-wasath) antara kelancangan (al-safh) dan kebodohan (al-balah). Kelancangan yang dimaksud adalah penggunaan daya pikir yang tidak tepat. Sedangkan kebodohan adalah membekukan dan mengesampingkan daya pikir walau sebetulnya mempunyai kemampuan.

Al-`adalah (keadilan) merupakan gabungan dari ketiga keutamaan al-nafs. Dikatakan demikian karena seseorang tidak dapat disebut sebagai kesatria jika ia tidak adil. Demikian pula seseorang tidak dapat disebut pemberani jika tidak mengetahui keadilan jiwa atau dirinya dan mengarahkan semua indranya untuk tidak mencapai tingkat nekad (al-tathawwur) maupun pengecut (al-jubn). Al-Hakim tidak akan memperoleh al-hikmah jika ia tidak menegakkan keadilan dalam berbagai pengetahuannya dan tidak menjauhkan diri dari sifat kelancangan (al-safah) kebodohan (al-balah). Dengan demikian manusia tidak akan dikatakann adil jika ia tidak mengetahui cara mengharmonisasikan al-hikmah, al-syaja’at, dan al-‘iffah. Keadilan sebagai pertengahan antara al-zhulum dan al-inzhilam. Al-zhulum berarti memperoleh hak milik dari sumber dan cara yang tidak semestinya (berbuat aniaya). Adapun al inzhilam adalah menyerahkan hak milik kepada yang tidak semestinya atau dengan cara yang tidak semestinya pula (teraniaya).

Keadilan ini merupakan gabungan dari semua keutamaan, karenanya ia hanya akan tercapai jika setiap jiwa mewujudkan masing-masing keutamaan. Keempat keutamaan akhlak tersebut merupakan pokok atau induk akhlak yang mulia. Akhlak-akhlak mulia lainnya seperti jujur, ikhlas, kasih sayang, hemat dan sebagainya merupakan cabang dari induk akhlak tersebut.

Berikut adalah tiga tanda atau sifat manusa. Pertama, tanda-tanda bijaksana: tajam intelejensi, kuat ingatan, rasionalis, ketangkasan berpikir, kejernihan ingatan dan pemikiran, mudah dalam belajar, fasih dalam berbicara, keteguhan hati/iman, bersahabat, murah hati rendah hati, dan tenang. Kedua, tanda-tanda berjiwa besar: pantang menyerah, tenang, ulet, sabar, murah hati, menahan diri/tahu diri, perkasa, bekerja keras/daya tahan yang kuat, ramah, dan pemaaf/pengampun. Ketiga, tanda ‘iffah: punya malu, tenang dalam mengendalikan gejolak nafsu, tidak terlalu suka kenikmatan fisik, suka memberi, tidak suka diberi, tidak berlebihan dalam makan-minum, meninggalkan sesuatu yang tidak baik, dan wara`.

Semoga kita selalu dimbing oleh Allah agar dapat melahirkan perilaku yang utama agar selamat serta menyelamatkan dunia dan akhirat. Wallahu’alam* (ns)

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta.

Sumber: UIN Jakarta